Pengaruh pemikiran hegemonis Antonio Gramsci pada era saat ini

Beliau bernama lengakap Antonio Gramsci lahir di Ales Italia,22 Januari 1891 dan meninggal 27 April 1993.Ia merupakan seorang filsuf Italia,penulis,dan teoritikus politik.Ia juga dikenal sebagai penemu konsep hegemoni budaya sebagai cara untuk Menjaga keberlangsungan negara dalam sebuah masyarakat kapitalisme.,

Salah satu pemikiran yang terkenal beliau yaitu konsep Hegemoni budaya.Menurut Antonio Gramsci Hegemoni budaya merupakan norma budaya yang berlaku di suatu masyarakat dan diterapkan oleh kelas penguasa (hegemoni budaya borjuis).

Jika melihat situasi saat ini banyak sekali fenomena sosial yang terjadi sekarang mulai dari masalah ekonomi yang menjadikan tingkat kemiskinan tinggi dan memicu kejahatan sosial,juga budaya korupsi merajalela. Tetapi ironisnya semua hal yang terjadi saat ini para penguasa dan segelintir orang (kaum kapitalis) hidup tentram dan mewah dimana hal itu membuat yang kaya semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin.Semua kemewahan yang di alami oleh penguasa dan segelintir orang itu tentunya tak lepas dari pengaruh barat dimana orang lebih memilih produk luar daripada produk dalam negeri,ini merupakan bukti keterjajahan kita 


Semua ini terjadi akibat kesalahan dari diri kita sendiri. Apa hasil ini sangat berdampak luas bagi kehidupan kita baik secara ekonomi,sosial,budaya,bahkanideologi.kebiasaankitamenggunakan produk asing yang dimana mindset kita bahwa produk luar lebih baik ketimbang produk lokal.semua ini tak lepas dari pikiran kta yang kadang gengsi menggunakan produk lokal dan lebih memilih produk luar dan ini merupakan bukti keterjajahan kita secara hegemonis.

Bangsa kita telah dihegemoni oleh bangsa barat dalam segala hal. Penjajahan ideologis atau hegemoni itu dilakukan dengan produk budaya; musik, mode pakaian, teknologi, bahkan makanan. Gaya pakaian yang menghiasi tubuh generasi muda kita lebih banyak meniru barat. Corak musik, bahkan yang paling sederhana adalah model makanan juga meniru gaya barat. Model makanan cepat saji saat ini telah menjamur di negeri ini. Demikian halnya dengan minuman, rokok, dan lain sebagainya.

Budaya hedonis, materialis dan konsumtif telah menjadikan kita diperbudak oleh negara lain. Sikap atau paham inilah yang menjadikan hidup kita bersikap boros. Generasi kita lebih banyak menghabiskan uang untuk hal-hal yang bersifat konsumtif atau kebutuhan sekunder. Dengan demikian, barang-barang yang dimiliki bukan atas pertimbangan nilai guna, tetapi nilai prestis atau kebanggaan semata.semestunya kita harus banyak belajar dari china,negara yang berpenduduk lebih dari 1 milyar tersebut kehidupan masyarakatnya disana lebih makmur dibandingkan dengan bangsa kita yang hanya penduduknya cuma ratusan juta. Ini karena kesadaran warganya akan produk lokal.

satu-satunya jalan yang bisa ditempuh untuk bangkit dari keterpurukan bangsa adalah dengan kembali pada ideologi kita sendiri. Pancasila adalah sebuah ideologi negara yang dibuat oleh para Founding Father kita.Kekonsistenan kita pada ideologi pancasila, akan menjadikan kita sebagai negara yang bermartabat.Semoga kesadaran kita akan ideologi bangsa sendiri, akan mengembalikan jati diri kita yang sesungguhnya. Hanya dengan cara inilah kita akan menjadi bangsa yang bermartabat di hadapan bangsa lain.

Pembicaraan mengenai civil society di Indonesia sejak pertengahan tahun 1980-an, kelihatannya lebih banyak yang bersandar pada tradisi liberal dengan semangat sebagai kekuatan penyeimbang kekuatan negara. Ini bisa dimengerti karena pada waktu kekuasaan Orde Baru, peran dan posisi negara sangat kuat dalam mendominasi seluruh aspek kehidupan masyarakat., baik secara sosial-politik maupun budaya-ekonomi. Karena wajar juga kalau arti dari civil society biasanya merujuk lepada pemberdayaan masyarakat dengan ciri utama seperti keswasebadaan, keswadayaan, kesukarelaan, dan kemandirian dalam berhadapan dengan kekuasaan negara. Dalam praktik politiknya ini terlihat dalam aktivitas LSM, kelompok marjinal atau sejenis dalam masyarakat. Sementara itu, jika kita menggunakan konsep Gramsci mengenai civil society dan hegomeni dalam kasus Indonesia, maka semangatnya disini adalah adanya elemen ideologi kelas yang dominan terhadap kelas-kelas yang subordinat. Pada titik ini kita bisa mengaitkannya dengan konsep yang sering dipromosikan oleh kalangan feminis yakni patriarki, sebagaimana civil society istilah patriarki ini juga bukan tanpa masalah. Ada banyak pengertian terkandung didalamnya, meskipun secara harfiah berarti kekuasaan bapak atau patriarkh (patriarch), pada awalnya istilah ini dipakai untuk menyebut suatu jenis keluarga yang dikuasai oleh kaum laki-laki yaitu rumah tangga besar patriarch yang terdiri dari kaum perempuaan, laki-laki muda, anak-anak, budak, dan pelayan rumah tangga yang semuanya berada dibawah kekuasaan atau hukum bapak sebagai laki-laki penguasa itu. Tapi nampaknya istilah ini kemudia mengalami perkembangan dalam hal lingkup institusi sosial menjadi lebih luas lagi, dari masyarakat sampai ketingkat negara sebut saja misalnya lembaga perkawinan, lembagaga pendidikan, institusi keagamaan, institusi ketenagakerjaan, media massa, birokrasi negara, dll. Pada titik ini juga pengertian dari hukum bapak berkembang menjadi hukum suami, hukum pimpinan atau boss di kantor, hukum pejabat birokrasi atau singkatnya adalah hukum laki-laki yang secara umum berlaku atau beroperasi pada hampir semua institusi sosial, ekonomi, hukum, politik, dan budaya.

Berdasar dari pemahaman kita akan pengertian hegemoni di atas, dapat disimpulkan bahwa di dalam hegemoni, hal yang memiliki peranan besar dalam perubahan sosial adalah ideologi. Ideologi yang lahir dari kesadaran akan eksistensi seseorang atau sekelompok orang akan menggerakan orang tersebut melakukan suatu perubahan.

Sebagai seorang sosialis, Gramsci meyakini bahwa masyarakat yang ideal adalah masyarakat sosialis, dimana kaum buruh tidak lagi menjadi korban eksploitasi dan dominasi kaum borjuis, serta tidak terpedaya oleh konsensus terselubung yang sengaja diciptakan kaum borjuis untuk mendapatkan ketertundukan kaum proletar.Saat transisi menuju sosialisme akan terjadi ketika kapitalisme telah berkembang matang dan terjadi krisis hegemoni. Namun revolusi dan transisi hanya bisa terjadi jika kaum proletar sudah mencapai kesadaran yang memadai tentang kondisi yang ada, serta mampu mengorganisir diri secara internal untuk menentukan langkah selanjutnya. Jadi, sepanjang kaum proletar masih terhegemoni kelas borjuis, maka gerakan radikal pekerja untuk melakukan counter hegemoni dan revolusi tidak akan tercapai. Menurut Gramsci, kelas pekerja hanya bisa menjadi kelas hegemonik dengan cara memperhatikan berbagai kepentingan dari kelas dan kekuatan sosial lain, serta 

Teori Hegemoni tidak lahir hanya dari kontemplasi, tetapi lahir dari pengalaman, pengamatan, dan interpretasi kehidupan sosial dan politik yang berlangsung di sekitar dan selama kehidupan Gramsci. Hasil pengalaman, pengamatan dan analisa 
tersebut ditulisnya dalam catatan-catatan selama dipenjara, hingga saat kematiannya. Pengalaman masa kecil hingga dewasa, keterlibatannya yang sangat aktif dalam dunia politik, organisasi partai dan gerakan-gerakan buruh, menjadi data utama dalam membangun teori hegemoni.

Antonio Gramsci telah memberikan kontribusi yang besar terhadap politik demokrasi dalam bias hegemoni negara. Hegemoni negara sebagai kerangka politik pemerintahan yang memiliki otoritas dalam mengendalikan distribusi pemenuhan hak-hak warga negaranya. Secara politis, hegemoni negara tersebut perlu didudukkan secara demokratis dengan mendudukkan rakyat sebagai bagian dari konsensus aktif untuk menentukan arah distribusi otoritas negara tersebut.

REFERENSI

Jurnal AL-DAULAH vol.7/no.2/2018

Jurnal TRANSLITERA edisi 5/2017

Nezar Patria, Andi Arief. Antonio Gramsci: Negara dan Hegemoni




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasib pekerja swasta akibat covid-19